Rabu, 09 Januari 2013

PENELITIAN SOSIAL



  1. MENYUSUN RANCANGAN PENELITIAN
sebuah rancangan penelitian memuat judul penelitian, latar belakang masalah penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustakaan, hipotesis, batasan konsep, metodologi penelitian, serta daftar kepustakaan.
  1. Latar belakang masalah
 Dalam mengungkapkan alasan pemilihan topik penelitian pada latar belakang masalah, perlu memerhatikan beberapa pokok-pokok penting antara lain:
a. Urgensi masalah penelitian yang dilakukan.
b. Alasan-alasan, manfaat, dan keuntungan penelitian.
c. Fakta dan data-data yang mendukung sehingga alasan-alasan pengambilan masalah itu cukup kuat.
2. Rumusan Masalah penelitian
Setelah topik permasalahan dan judul penelitian diperoleh, maka
topik tersebut harus dirumuskan secara eksplisit di dalam rancangan penelitian. Masalah-masalah yang akan dirumuskan harus memerhatikan ketentuan-ketentuan sebagai berikut.
a. Menggunakan kalimat pertanyaan.
b. Mengungkapkan variabel-variabel penelitian.
c. Mengungkapkan jenis hubungan antarvariabel yang ada.
d. Mengungkapkan objek penelitian.
Contoh rumusan masalah penelitian.
”Apakah tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap prestasi kerja karyawan PT Sentosa Jaya?”
3. Tujuan dan manfaat penelitian
 Di dalam melakukan penelitian tentunya seorang peneliti memiliki tujuan. Selain itu, penelitian yang dilakukan mempunyai manfaat bagi kehidupan masyarakat. Dalam penelitian sosial, tujuan penelitian harus sejalan dengan rumusan masalah sosial. Sedangkan, manfaat penelitian merupakan kelanjutan dari tujuan penelitian. Jika rumusan masalah dalam suatu penelitian adalah apa penyebab terjadinya perilaku menyimpang di kalangan pelajar SMAN 2 TURI, maka didapat tujuan penelitian yaitu, ingin mengetahui penyebab terjadinya perilaku menyimpang di kalangan pelajar SMAN
2 TURI. Dengan kata lain, tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan keinginan peneliti untuk mencapai sesuatu melalui penelitiannya. Melalui rumusan masalah dan tujuan penelitian didapat kesimpulan penelitian. Manfaat penelitian dicantumkan pula dalam rancangan penelitian. Melalui manfaat penelitian ini, peneliti mengungkapkan manfaat yang diperoleh dari hasil kesimpulan penelitian tersebut. Biasanya manfaat penelitian bersifat praktis. Contoh: dengan diketahuinya penyebab terjadinya perilaku menyimpang di kalangan pelajar SMAN 2 TURI, maka penelitian dapat dijadikan sebagai pedoman bagi upaya mengatasi perilaku menyimpang.
4. tinjauan kepustakaan
Dalam penelitian sosial tinjauan pustaka disebut juga studi kepustakaan. Bobot suatu rancangan penelitian pada umumnya tercermin dari tinjauan pustaka. Semakin banyak sumber bacaan yang dipelajari, semakin banyak pula pengetahuan tentang masalah yang diteliti. Namun, tidak semua buku-buku bacaan dan laporan penelitian yang ada dapat ditelaah. Oleh karenanya, seorang peneliti harus mampu bersikap selektif. Secara umum, terdapat dua kriteria dalam memilih sumber bacaan, yaitu kemutakhiran dan relevansi. Kemutakhiran dalam hal ini berarti sumber tersebut bersifat up to date atau tidak ketinggalan zaman. Sedangkan relevansi berarti sumber tersebut berhubungan dengan masalah yang diteliti. Adapun fungsi tinjauan kepustakaan dalam suatu penelitian antara lain:
a. Memperdalam pengetahuan tentang masalah yang diteliti sehingga mampu menguasai masalah dengan baik.
b. Menegaskan kerangka teoretis yang dijadikan landasan berpikir dalam menjawab masalah penelitian yang diajukan.
c. Mempertajam konsep yang digunakan sehingga memudahkan perumusan hipotesis.
d. Menghindari suatu pengulangan dari suatu penelitian.
5. hipotesis
 Hipotesis adalah suatu pendapat yang sederhana karena belum diuji oleh kenyataan di lapangan. Keberadaan hipotesis dapat diambil dari teori yang telah ada. Hipotesis yang dikembangkan dari suatu teori dinamakan hipotesis deduktif. Sedangkan, hipotesis yang dimunculkan dari hasil pengamatan atas sejumlah kejadian dinamakan hipotesis induktif atau hipotesis yang dimunculkan dari lapangan. Adapun hipotesis berfungsi sebagai jawaban sementara untuk masalah penelitian. Penelitian yang berpijak pada hipótesis dimaksudkan untuk menguji hipotesis. Sedangkan penelitian yang tidak menggunakan hipotesis bertujuan untuk mencari jawaban dalam rumusan masalah. Namun, tidak semua penelitian harus mempunyai hipotesis. Misalnya, penelitian eksporatif dan deskriptif. Penelitian deskriptif tidak memerlukan hipotesis karena tujuannya tidak menguji hipotesis tetapi menjawab permasalahan penelitian. Berbeda dengan penelitian eksplanatif. Penelitian eksplanatif memerlukan hipotesis. Hal ini dikarenakan penelitian tersebut mencari hubungan antarvariabel. Dengan kata lain, hipotesis diperlukan jika penelitian tersebut mempersoalkan hubungan antarvariabel.
6. Batasan konsep
 Dalam penelitian sosial batasan konsep disebut juga batasan judul. Pembatasan konsep dilakukan dengan cara memberikan batasan pengertian dari setiap istilah, konsep atau variabel yang digunakan baik dalam judul penelitian rumusan masalah maupun tujuan penelitian. Pemberian definisi ini bertujuan untuk membatasi ruang lingkup masalah yang akan diteliti. Dengan pembatasan konsep, seorang peneliti menjadi lebih terfokus dalam pelaksanaan penelitian. Contoh, penelitian yang berjudul ”Penyebab Terjadinya Perilaku Menyimpang di Kalangan Pelajar SMAN 2 TURI”. Dalam hal ini konsep yang perlu dibatasi adalah perilaku menyimpang dari pelajar. Adapun kegunaan batasan konsep dalam penelitian sosial sebagai berikut.
a. Mempermudah pembaca memahami masalah yang diteliti.
b. Menghindari timbulnya kesalahpahaman antara penyusun dengan pembaca.
c. Membatasi ruang lingkup masalah.
d. Menjadi pegangan atau pedoman bagi peneliti dalam menyusun instrumen atau alat penelitian, mengurutkan variabel-variabel yang hendak diteliti, menetapkan populasi dan sampel, serta menginterpretasikan hasil penelitian.
7. metodologi penelitian
Metodologi penelitian dalam rancangan penelitian berisi tentang teknik atau cara pelaksanaan penelitian sosial. Dalam metodologi penelitian mengulas mengenai subjek penelitian, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data, dan analisis data. Pada bab sebelumnya telah dibahas tentang subjek penelitian. Tidak ada salahnya apabila kita mengingatnya kembali. Subjek penelitian adalah sumber tempat kita memperoleh keterangan atau data penelitian. Dalam penelitian sosial dikenal dua sumber subjek penelitian yaitu populasi dan sampel, di mana populasi merupakan keseluruhan objek yang menjadi pusat perhatian penelitian. Sedangkan sampel adalah bagian yang mewakili populasi. Dalam metode penelitian inilah diuraikan siapa saja yang menjadi subjek penelitian baik populasi maupun sampel. Selain subjek penelitian, dalam metode penelitian memuat teknik pengumpulan data, yang digunakan, teknik pengolahan data yang dipakai, serta cara pengolahan data yang cocok. Materi ini akan dibahas
pada subbab berikutnya.
  1. PENGUMPULAN DATA PENELITIAN
  1. Data penbelitian sosial
Terdapat
beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti agar dapat memperoleh data yang baik dalam pelaksanaan penelitian. Hal-hal tersebut antara lain:
a. Peneliti harus memahami tujuan penelitian.
b. Peneliti memusatkan hipotesis atau hal-hal yang perlu dipecahkan dalam penelitian.
c. Peneliti harus memahami sampel yang menjadi sumber data.
d. Peneliti harus memahami pedoman kerja.
e. Peneliti harus memahami dan mendokumentasikan data.
2. Macam- macam data penelitian
 Berdasarkan cara memperolehnya, data dalam penelitian social dibedakan atas data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data dikumpulkan dari orang pertama dan diolah oleh organisasi atau perorangan. Data primer didapat dari masyarakat secara langsung atau hasil observasi di lapangan. Misalnya, seorang peneliti mendatangi setiap rumah tangga untuk menanyakan jumlah penduduk, mata pencaharian, agama, pendidikan, dan lain-lain. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh bukan dari sumber pertama. Data sekunder diperoleh melalui pihak lain yang sebelumnya telah mengumpulkan dan mengolahnya secara umum. Data sekunder bersumber dari bahan bacaan atau dokumentasi seperti surat-surat pribadi, Badan Pusat Statistik, notulen rapat, surat kabar, dan lainlain. Selain itu, apabila dilihat dari sifatnya data dibedakan menjadi data kualitatif dan data kuantitatif.
a. Data kualitatif, yaitu data yang tidak berbentuk angka, tetapi lebih banyak berupa deskripsi, ungkapan atau makna-makna tertentu yang harus diungkap peneliti. Contoh, kesejahteraan petani, interaksi anak dalam keluarga, dan lain-lain.
b. Data kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka yang hasilnya dapat diolah dan dianalisis dengan menggunakan teknik-teknik statistik. Contoh, pertambahan jumlah penduduk, pendapatan penduduk, jumlah pedagang di area tertentu, dan lain-lain.
3. metode pengumpulan data
 Begitu pentingnya data dalam penelitian sosial, maka dalam pengumpulannya menggunakan metode atau prosedur-prosedur tertentu. Keberhasilan suatu kegiatan pengumpulan data ditentukan pula oleh metode pengumpulan data tersebut. Karenanya dalam pemilihan metode pengumpulan data dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain:
a. Sumber Data
Sumber data atau sampel dapat menentukan metode atau alat pengumpul data. Apabila sumber data besar, maka metode yang cocok digunakan adalah kuesioner. Sedangkan apabila sumber data kecil, akan menjadi lebih mudah menggunakan metode wawancara.
b. Lokasi
Apabila lokasi penelitian meliputi daerah yang luas, maka lebih efektif jika menggunakan metode kuesioner daripada wawancara dan observasi.
c. Pelaksanaan
Apabila pelaksana atau tenaga pengumpul banyak, namun respondennya sedikit, maka metode yang paling baik digunakan adalah wawancara atau observasi. Sebaliknya, jika pelaksana atau tenaga pengumpul sedikit dan respondennya banyak maka metode kuesioner atau angket lebih tepat untuk digunakan.
d. Biaya dan Waktu
Apabila peneliti dihadapkan pada kondisi dana yang sedikit sedangkan mempunyai waktu terbatas, maka metode kuesioner atau angket layak untuk digunakan.
e. Kedalaman Data
Apabila peneliti ingin mengetahui data secara lebih mendalam, maka lebih baik seorang peneliti menggunakan metode wawancara dibanding kuesioner atau observasi. Adapun metode-metode pengumpulan data dalam penelitian sosial adalah:
a. Metode Observasi
Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan mengamati langsung di lapangan. Mengamati bukan hanya melihat melainkan juga merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian. Observasi atau pengamatan sering dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia atau keadaan, kondisi, dan situasi lainnnya. Apabila dilihat dari pelaksanaannya, observasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu observasi langsung dan observasi tidak langsung. Observasi langsung dapat disebut juga observasi partisipasi, di mana peneliti ikut aktif berpartisipasi pada aktivitas yang sedang diamati. Berdasarkan segi keterlibatan observer, pada metode ini dibedakan menjadi dua bentuk yaitu partisipasi sebagian (partial participation) dan partisipasi penuh (full partisipation). Dikatakan partisipasi sebagian karena observer tidak melibatkan diri sepenuhnya. Namun berbeda dengan full participation, observer melibatkan diri sepenuhnya ke dalam objek pengamatan. Sedangkan observasi tidak langsung dapat juga disebut observasi nonpartisipasi. Pada metode ini, observer tidak melibatkan diri ke dalam objek pengamatan. Observer mendapatkan gambaran tentang objeknya melalui pengamatan tidak langsung.
b. Metode Wawancara (Interview)
Wawancara adalah teknik komunikasi langsung antara peneliti dan sampel. Pengumpulan data dengan metode wawancara harus secara lisan atau melakukan kontak langsung dengan responden. Dalam wawancara, seorang pewawancara harus dapat menciptakan suasana yang santai namun serius, sehingga suasana ini mendukung responden untuk menjawab apa saja yang ditanyakan oleh pewawancara tentunya dengan keseriusan dan kesungguhan. Untuk memfokuskan arah wawancara, seorang peneliti biasanya membuat pedoman wawancara yang berisi format pertanyaan
yang akan diajukan kepada responden sebelum melakukan wawancara. Apabila ditinjau dari pelaksanaannya, pedoman wawancara dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1) Pedoman wawancara tidak berstruktur, yaitu pedoman
wawancara yang hanya memuat tema yang dijadikan acuan wawancara. Dalam hal ini, pewawancara harus dapat mengendalikan jalannya wawancara, sehingga wawancara menjadi sesuai dengan garis besar pembicaraan yang telah dipersiapkan.
2) Pedoman wawancara terstruktur yaitu, pedoman wawancara yang disusun secara terperinci. Butir-butir pertanyaan telah dipersiapkan, sehingga pewawancara tinggal memberi tanda cek (). Sedangkan berdasarkan tujuannya, wawancara dapat
dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu:
1) Wawancara Survei
Wawancara survei bertujuan mencari data untuk suatu populasi tertentu.
2) Wawancara Diagnostik
Wawancara diagnostik bertujuan mendiagnosis seseorang tentang masalah yang dihadapi. Perlu diketahui bersama bahwa, dalam wawancara hendaknya seorang pewawancara memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuannya secara jujur agar responden tidak menaruh curiga sehingga proses wawancara dapat berjalan lancar.
c. Metode Angket (Kuesioner)
Angket/kuesioner adalah suatu daftar yang berisi pertanyaan yang harus dijawab secara tertulis oleh responden. Angket dapat disebut sebagai wawancara tertulis karena peneliti tidak perlu bertatap muka dengan responden. Jenis-jenis pertanyaan pada angket dibedakan menjadi dua yaitu pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Pertanyaan tertutup adalah semua pertanyaan yang diajukan mempunyai alternatif jawabannya sehingga responden tinggal memilih jawaban yang diinginkan. Sedangkan pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang jawabannya Belem ditentukan dan responden bebas memberikan jawaban. Perlu diingat, bahwa metode kuesioner dapat digunakan apabila respondennya mampu membaca. Metode kuesioner mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan metode lainnya. Beberapa kelebihan metode ini
sebagai berikut.
1) Tidak memerlukan hadirnya peneliti karena dapat dikirim melalui pos.
2) Dapat dibagikan secara serentak kepada banyak responden.
3) Dapat dijawab oleh responden menurut kesempatan dan waktu yang tersedia.
4) Dapat dibuat anonim (tidak disebutkan identitasnya) sehingga responden dapat menjawab secara jujur dan objektif.
5) Bersifat standar sehingga semua responden mendapatkan pertanyaan yang sama. Agar dapat mendapatkan data yang baik maka pembuatan pertanyaan dalam kuesioner hendaknya memerhatikan langkahlangkah sebagai berikut.
1) Menentukan tujuan kuesioner.
2) Menentukan variabel yang akan digunakan.
3) Menentukan jenis-jenis bahan atau jawaban yang diperlukan untuk setiap variabel.
4) Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan.
 d. Metode Dokumenter
Metode dokumenter digunakan apabila peneliti hendak mengumpulkan data dari dokumen seperti catatan, transkrip, buku, surat kabar, media massa, dan lain-lain. Dalam metode ini, peneliti perlu mencermati sumber-sumber yang digunakan. Adapun berita-berita yang dapat dijadikan sebagai data harus memenuhi syarat sebagai berikut.
1) Objektif dan apa adanya.
2) Tidak memihak, sehingga tidak menyesatkan pengumpul data.
3) Mengandung wawasan ilmiah.
4) Beritanya bersifat aktual.
e. Metode Tes
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, inteligensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Jika ditinjau dari sasaran atau objek yang akan dievaluasi, tes
dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
1) Tes kepribadian (personalitiy test), yaitu tes yang digunakan untuk mengungkapkan kepribadian seseorang. Hal yang diukur antara lain kreativitas dan kedisiplinan.
2) Tes bakat (aptitude test), yaitu tes yang digunakan untuk mengukur atau mengetahui bakat/potensi seseorang.
3) Tes inteligensi (inteligence test), yaitu tes yang digunakan untuk mengadakan perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan cara memberikan berbagai tugas kepada orang yang akan diukur inteligensinya.
4) Tes sikap (attitute test), yaitu tes yang digunakan untuk mengadakan pengukuran terhadap berbagai sikap seseorang.
5) Tes minat (measure of interest) yaitu tes yang digunakan untuk menggali minat seseorang terhadap sesuatu.
6) Tes prestasi (achievement test), yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu.
C. PENGOLAHAN DATA
Tahap pengolahan data merupakan tahap akhir dalam penelitian sosial. Setelah data-data yang diperlukan terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah melakukan pengolahan data. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan hasil akhir atau kesimpulan. Pada tahap pengolahan, data diolah sedemikian rupa sehingga mampu menyimpulkan kebenaran-kebenaran yang dapat menjawab masalahmasalah yang diteliti. Dalam penelitian sosial dikenal dua pengolahan data yaitu, pengolahan kualitatif dan kuantitatif.
  1. pengolahan data kualitatif
 Proses pengolahan data kualitatif secara garis besar menempuh tiga tahap kegiatan, yaitu:
a. Reduksi Data
Reduksi adalah proses mengubah rekaman data ke dalam pola, fokus, kategori, atau pokok permasalahan tertentu. Data yang terkumpul dan terekam dalam catatan-catatan lapangan, kemudian dirangkum dan diseleksi. Pada intinya reduksi data dapat diartikan sebagai suatu proses pemilihan data, pemusatan perhatian pada penyederhanaan data, pengabstrakan data dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data belangsung terus-menerus selama pengumpulan data kualitatif dilakukan. Dalam kegiatan reduksi data, dilakukan pemilihan-pemilihan tentang bagian mana yang perlu dikode, dibuang, dan diringkas. Oleh karena itu, kegiatan ini ditunjukkan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak perlu dan mengorganisasi data sebagai bahan penarikan kesimpulan. Kesemua itu dilakukan bertujuan untuk lebih mempermudah penarikan kesimpulan. Kegiatan reduksi data dapat dilakukan melalui seleksi data yang ketat, pembuatan ringkasan/uraian singkat, atau dapat pula dengan menggolongkan data menjadi suatu pola yang lebih luas dan mudah dipahami.
b. Penyajian Data
Penyajian data diartikan sebagai sekumpulan informasi yang tersusun sehingga memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian yang sering digunakan adalah dalam bentuk teks naratif, bentuk matriks, grafik, jaringan dan bagan. Semuanya dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih. Dengan begitu, pengolah data dapat melihat tentang segala hal yang sedang terjadi dan dapat
menentukan kesimpulan secara tepat.
c. Menarik Kesimpulan/Verifikasi
Pada dasarnya, sejak permulaan pengumpulan data, peneliti sudah mulai mencari arti tentang segala hal yang telah dicatat atau disusun menjadi suatu konfigurasi tertentu. Pengolahan data kualitatif tidak akan menarik kesimpulan secara tergesa-gesa, tetapi secara bertahap dengan tetap memerhatikan perkembangan perolehan data. Dengan kata lain , penarikan kesimpulan adalah suatu kegiatan dalam pembentukan konfigurasi yang utuh. Secara keseluruhan tiap-tiap tahap dalam pengolahan data kualitatif merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Ketiganya saling kait-mengait menghasilkan suatu kesimpulan penelitian. Jika dalam satu tahap tertentu didapati suatu kesalahan maka dapat dipastikan akan terjadi kesalahan pada tahap berikutnya. Oleh karena itu, dalam pengolahan data kualitatif ada tiga hal yang perlu dikuasai, yaitu:
a. Kemampuan memerinci fokus masalah yang benar untuk ditelaah secara mendalam.
b. Kemampuan melacak, mencatat, dan mengorganisasikan data untuk masing-masing fokus, kategori, atau pokok masalah.
c. Kemampuan melukiskan dan menuturkan apa yang dipahami dan diketahui tentang masalah yang diteliti ke dalam uraian kalimat yang deskriptif dan interpretatif.
2. Pengolahan data kuantitatif
 Pengolahan data secara kuantitatif disebut juga pengolahan data secara statistik. Dalam pengolahan data secara statistik memerlukan perhitungan secara matematis. Oleh karena itu, diperlukan kecermatan dan ketelitian. Dalam mengolah dan menganalisis data kuantitatif, terdapat dua macam statistik yang digunakan, yaitu statistik deskriptif dan statistic inferensial. Statistik deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan variabel penelitian melalui pengukuran. Statistik inferensial digunakan untuk menguji hipotesis dan membuat generalisasi. Pengolahan data kuantitatif biasanya melewati tiga tahap pemrosesan awal, yaitu:
a. Editing, yaitu proses memeriksa data yang sudah terkumpul meliputi kelengkapan isian, keterbacaan tulisan, kejelasan jawaban, relevansi jawaban, keseragaman satuan data yang digunakan, dan lain-lain. Pada saat pengeditan, peneliti tidak boleh mengganti jawaban, angka, ataupun pertanyaan-pertanyaan dengan maksud-maksud tertentu.
 b. Coding, yaitu kegiatan memberikan kode pada setiap data yang terkumpul di setiap instrumen penelitian. Kegiatan ini bertujuan untuk memudahkan dalam penganalisisan dan penafsiran terhadap data-data. Biasanya kode yang digunakan dalam bentuk angka.
c. Tabulating, yaitu memasukkan data-data yang sudah dikelompokkan ke dalam tabel-tabel yang mudah dipahami. Melalui tabulating, data lapangan terlihat lebih ringkas dan dapat dibaca dengan mudah.
Setelah peneliti melakukan keseluruhan langkah awal tadi, tahap selanjutnya adalah pengolahan data secara statistik sederhana. Pengolahan data statistik diartikan sebagai cara untuk mengolah data berupa angka (kuantitatif) sedemikian rupa sehingga informasi atau data tersebut mempunyai arti. Biasanya pengolahan data dilakukan dengan beberapa macam teknik seperti distribusi frekuensi (sebaran frekuensi) dan ukuran memusat (mean, median, dan modus).
a. Sebaran Frekuensi (Distribusi Frekuensi)
Pada dasarnya data yang didapat dalam pengumpulan data masih berupa data mentah. Data tersebut perlu disusun dan diatur untuk dapat dipahami. Penyajian data dapat diatur melalui tiga cara, yaitu dengan distribusi frekuensi, distribusi presentasi atau
dengan frekuensi kumulatif.
 b. Ukuran Memusat (Tendensi Sentral)
Ukuran pemusatan data atau tendensi sentral adalah bilangan yang mewakili keseluruhan data. Pengukuran tendensi sentral digunakan apabila data perlu dijelaskan dengan mempergunakan satu petunjuk yang berpusat pada titik-titik sentral dari sekumpulan data. Pengukuran yang sering digunakan adalah mean (rata-rata hitung), modus, dan median.
  1. Penyusunan Laporan penelitian
  1. Pengertian, Manfaat, dan bentuk- bentuk laporan penelitian
Laporan penelitian adalah uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses kegiatan penelitian. Dengan demikian, isi laporan penelitian bukan hanya berupa langkah-langkah yang telah dilalui oleh peneliti, melainkan juga latar belakang permasalahannya, kerangka berpikir, dukungan teori, dan lain sebagainya yang bersifat memperkuat makna penelitian yang dilakukan. Laporan penelitian dibuat oleh peneliti setelah selesai
melakukan penelitian. Menurut Moleong (2001: 216),
penulisan laporan hasil penelitian sangat besar manfaatnya untuk memenuhi beberapa keperluan. Di perguruan tinggi Laporan hasil penelitian dimanfaatkan untuk keperluan studi akademis. Setiap kali mahasiswa akan mengakhiri masa studinya, salah satu tugas akademisnya adalah diwajibkan mengadakan penelitian dan menyusun tesis untuk studi S1 dan S2, serta disertasi untuk S3. Di pihak lain, penulisan laporan hasil penelitian dimanfaatkan untuk keperluan perkembangan ilmu pengetahuan. Penelitian tersebut biasanya dilakukan oleh lembaga-lembaga penelitian. Misalnya lembaga penelitian nasional, lembaga-lembaga di tingkat daerah, dan lembagalembaga penelitian di tingkat perguruan tinggi. Namun, ada pula penelitian dilakukan untuk keperluan lembaga masyarakat, lembaga pemerintahan, atau lembaga bisnis tertentu. Dengan kata lain, penelitian demikian dilakukan untuk keperluan suatu lembaga tertentu. Terakhir, penulisan hasil penelitian dapat dimanfaatkan untuk keperluan publikasi ilmiah. Hal ini terkait dengan fungsi penulisan laporan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, namun lebih mengarah pada publikasi ilmiah. Contoh: seorang peneliti yang bekerja di lembaga penelitian atau seorang dosen melakukan penelitian dan memublikasikannya dalam majalah ilmiah untuk keperluan pengembangan karier profesionalnya. Manfaat manfaat penulisan laporan penelitian di atas sangat erat kaitannya dengan jenis dan bentuk laporan itu sendiri. Bentuk pertama adalah tesis dan disertasi yang dilakukan oleh mahasiswa di masa akhir studi. Tesis maupun disertasi mempunyai bentuk khusus yang biasanya mengikuti aturan dan model tertentu yang ditetapkan oleh suatu perguruan tinggi. Jenis dan bentuk kedua yaitu publikasi ilmiah yang dilakukan oleh peneliti pada majalah ilmiah seperti jurnal. Tesis dan disertasi mempunyai tata aturan yang ketat dan kaku dalam pola dan cara penulisannya. Sedangkan pada bentuk publikasi ilmiah, aturan itu cukup longgar sehingga penyusun laporan hasil penelitian bebas menentukan sendiri gaya penulisannya. Bentuk ketiga yaitu laporan penelitian yang ditujukan kepada para pembuat keputusan atau kebijaksanaan. Bentuk demikian oleh Moleong dinamakan bentuk eksekutif. Bentuk ini berbeda dengan bentuk pertama karena pembacanya akan menjadi pemakai hasil penelitian. Bentuk laporan seperti ini, disajikan secara singkat namun tetap padat berisi, dan bersifat argumentatif dan persuasif sehingga tidak membosankan. Bentuk terakhir adalah bentuk penulisan laporan hasil penelitian yang ditujukan kepada masyarakat awam. Laporan tersebut biasanya dimuat sebagai artikel dalam koran. Bentuk ini menuntut cara penyajian tersendiri karena pembacanya terdiri atas orang-orang awam sehingga penulisannya dilakukan secara ilmiah populer dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, singkat namun inti hakikat hasil penemuan dapat terkomunikasikan kepada pembacanya.
  1. Garis Besar Isi laporan
 Secara garis besar, penulisan laporan penelitian memuat tiga
bagian utama, yaitu pembukaan, isi, dan penutup.
a. Bagian Pembukaan
Bagian pembukaan merupakan bagian awal yang harus dilakukan dalam penulisan laporan penelitian. Pada bagian pembukaan berisi judul penelitian, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, dan diagram.
1) Judul Penelitian
Judul penelitian mencerminkan topik penelitian yang dirumuskan dalam bentuk kalimat secara singkat, padat, komunikatif, tetapi jelas dan dapat ditangkap dalam pandangan sekilas.
2) Kata Pengantar
Kata pengantar berisi keterangan dari penulis atau peneliti mengenai tulisannya. Keterangan tersebut menjelaskan alasan dipilihnya sasaran penelitian dan ucapan terima kasih kepada setiap pihak yang memberi kontribusi.
3) Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar/Diagram/Ilustrasi
Daftar isi menunjukkan bagian-bagian dari laporan dan hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Daftar tabel memuat judul-judul setiap tabel dan disusun secara berurutan sesuai nomor urut kode. Sedangkan daftar gambar/ ilustrasi/diagram memuat keterangan gambar/ilustrasi/diagram.
b. Bagian Isi
Adapun inti isi dari laporan penelitian di semua bentuk terdapat lima hal yang harus ada, yaitu pendahuluan, kajian pustaka, metodologi penelitian, hasil penelitian, kesimpulan, dan implikasi penelitian. Untuk memahami lima hal di atas perhatikan penjelasan di bawah ini.
1) Pendahuluan
Secara umum bagian ini berisi tentang latar belakang, rumusan, tujuan dan manfaat penelitian, hipotesis, batasan konsep, serta hambatan-hambatan yang dialami selama melakukan penelitian.
2) Tinjauan Pustaka/Kajian Pustaka
Bagian ini memberi gambaran kepada pembaca mengenai halhal yang telah dirintis oleh peneliti lain, seperti konsep, teori, dan data penemuan yang berhubungan dengan masalah penelitian yang sedang diteliti.
3) Metodologi Penelitian
Melalui bagian ini segala metode dalam penelitian diungkapkan, seperti subjek, objek, dan ruang lingkup penelitian termasuk teknik sampling, teknik pengumpulan data,  instrumen atau alat pengumpul data, jenis atau model
penelitian, metode pengolahan, dan analisis data yang
digunakan.
4) Hasil Penelitian
Pada bagian ini, menggambarkan tentang subjek atau objek penelitian, sajian data, dan uji statistik untuk masing-masing data. Data-data yang telah terkumpul diolah dan disajikan berdasarkan jenis penelitiannya. Sebagai contohnya, apabila penelitian berbentuk deskripsi, tentunya sajian dalam hasil penelitian berupa uraian data tanpa menguji hipotesis. Namun, apabila penelitian berbentuk eksplanasi, maka sajian data berupa menguji hipotesis. Begitu pula dengan pendekatan yang digunakan baik itu kuantitatif dan kualitatif. Jika pendekatan kualitatif maka sajian datanya berupa uraian data sederhana dalam bentuk susunan kalimat. Sedangkan pendekatan yang bersifat kuantitatif, maka sajian datanya berupa uji statistik yang diwujudkan lewat angka dan tabel. Kesemua ini diulas dan dibahas secara menarik menjadi sebuah hasil penelitian yang ingin diketahui oleh pembaca.
5) Kesimpulan dan Implikasi Penelitian
Pada bagian ini diuraikan apa yang menjadi kesimpulan hasil penelitian dan apa yang dapat disarankan sesuai dengan hasil penelitian tersebut. Pada dasarnya kesimpulan penelitian adalah kesimpulan final yang sudah disinkronkan atau diselaraskan dengan setiap rumusan problematika penelitian. Selain memuat hal-hal praktis, memuat pula implikasi penelitian. Implikasi penelitian merupakan alternative kemungkinan yang dapat diambil oleh siapa pun dalam rangka memanfaatkan atau melaksanakan tindak lanjut dari hasil penelitian yang bersangkutan.
c. Bagian Penutup
Bagian ini biasanya terletak di akhir laporan penelitian. Secara umum bagian penutup berisi hal-hal di bawah ini.
1) Daftar Pustaka
Bagian ini memuat buku-buku, laporan, jurnal, dan sumber tertulis lain yang digunakan dalam penelitian. Dalam penulisan daftar pustaka perlu dikemukakan nama penulis, tahun penerbitan, judul buku, kota penerbitan, dan nama penerbit.
2) Lampiran
Dalam lampiran memuat keseluruhan bukti-bukti yang dirasa penting dalam melakukan penelitian. Contoh, surat izin, tabel, grafik, format instrumen, dan lain-lain.
3) Indeks
Pada bagian ini memuat istilah-istilah dalam penelitian. Biasanya penyusunan indeks disusun menurut urutan abjad.
  1. menyusun Laporan penelitian
 Setelah garis besar laporan terbentuk, langkah selanjutnya adalah menyusun laporan penelitian. Bahan-bahan dalam penyusunan laporan penelitian adalah data-data dan keterangan yang disusun dalam catatan-catatan yang dibuat selama penelitian berlangsung.
Penyusunan laporan penelitian akan lebih efisien apabila dilakukan sejak penelitian tersebut sedang direncanakan. Pada dasarnya sebelum menyusun sebuah laporan penelitian, seorang peneliti menentukan terlebih dahulu kerangka-kerangka laporan penelitian. Penyusunan kerangka penelitian dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam menulis laporan penelitian. Biasanya kerangka tersebut terdiri atas empat atau enam bab yang kesemuanya diawali dengan bagian pembukaan dan diakhiri dengan bagian penutup. Secara umum dapat digambarkan sebagai berikut.
Bagian Pembukaan
a. Judul penelitian
b. Kata pengantar
c. Daftar isi
d. Daftar tabel
e. Daftar gambar/ilustrasi/diagram
Bagian Isi
a. Bab I Pendahuluan
b. Bab II Tinjauan pustaka
c. Bab III Metodologi penelitian
d. Bab IV Hasil penelitian
e. Bab V Pembahasan hasil penelitian
f. Bab VI Kesimpulan dan saran
Bagian Penutup
a. Daftar penutup
b. Lampiran-lampiran
c. Indeks
Dalam menyusun laporan, erat kaitannya dengan kemampuan seseorang untuk berpikir logis dan runtut serta didukung pula oleh kemampuan berbahasa, kebiasaan membaca, kesediaan memberi dan menerima komentar. Selain itu, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan laporan ilmiah antara lain:
a. Harus mengetahui kepada siapa laporan tersebut ditujukan. Penulis harus menyadari siapa saja yang akan membaca dan mempelajari laporan tersebut. Apakah kalangan cendekiawan, masyarakat umum, pelajar ataukah masyarakat tertentu. Hal ini dikarenakan tingkat pemahaman tiap kelompok konsumen berbeda-beda. Oleh karenanya, penyampaian hasil penelitian dalam bentuk laporan, sebaiknya memerhatikan tingkat pemahaman dan kebutuhan konsumen.
b. Harus menyadari bahwa pembaca laporan tidak mengikuti proses penelitian. Dengan demikian, penulis harus dapat mengajak orang lain untuk mencoba mengikuti apa yang telah penulis kerjakan dalam penelitian. Oleh karena itu, langkah demi langkah harus dikemukakan secara jelas.
c. Harus menyadari bahwa tingkat pengetahuan pembaca tidaklah sama. Oleh karena itu, hasil penelitian harus dikemukakan dengan jelas. Peneliti juga harus menyusun laporan penelitian dengan meyakinkan, karena laporan penelitian adalah unsur pokok
dalam proses kemajuan ilmu pengetahuan.
  1. PRESENTASI LAPORAN PENELITIAN
  1. Pengertian dan manfaat prsenta si
 kegiatan presentasi Presentasi adalah media penyebarluasan laporan penelitian, oleh karenanya presentasi dilakukan di awal hasil penelitian dipublikasikan. berhubungan erat dengan diskusi. Diskusi merupakan percakapan ilmiah yang dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok, di mana masingmasing anggota kelompok saling bertukar pendapat tentang suatu masalah atau bersama-sama mencari pemecahan suatu masalah.
Selain sebagai media penyebarluasan hasil penelitian, presentasi mempunyai makna yang besar bagi peneliti ataupun pelajar. Hingga tidak jarang presentasi dimasukkan sebagai kegiatan belajar dalam sekolah maupun universitas. Manfaat lain dari presentasi atau diskusi antara lain:
a. Dapat mengungkapkan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh siswa.
b. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan kemampuan masing-masing.
c. Memperoleh umpan balik dari peserta, mengenai sasaran laporan yang telah dicapai dan yang belum dicapai.
d. Membantu siswa berpikir teoretis dan praktis lewat topik yang disajikan.
e. Membantu siswa menilai kemampuan penelitian atau penulisan laporan.
f. Membantu siswa mengetahui, memahami dan merumuskan berbagai masalah sosial yang timbul dan terjadi di masyarakat.
g. Mengembangkan motivasi siswa untuk lebih mendalami dan memecahkan setiap masalah yang dibahas sebagai wujud kepeduliannya terhadap masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
SOSIOLOGI ONLINE © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. KAPTEN BUDI SULAIMAN